(Reuters) – Dolar sedikit melemah pada hari Jumat namun berada di jalur kenaikan mingguan setelah data inflasi AS yang rendah semakin mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat. Pergerakan sebagian besar mata uang cenderung terbatas, tertahan oleh ketegangan yang masih berlangsung di Timur Tengah dan harga minyak yang tinggi.
Indeks Dolar AS turun tipis 0,1% ke level 99,82 setelah ditutup sedikit lebih rendah pada perdagangan sebelumnya.
Data PPI AS Yang Rendah Mengurangi Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Data pada hari Kamis menunjukkan bahwa harga produsen AS tidak berubah (flat) secara tak terduga pada bulan Juli, menambah bukti bahwa tekanan inflasi sedang mereda. Data ini menyusul laporan harga konsumen yang menunjukkan IHK (CPI) utama naik 3,4% secara tahunan (*year-on-year*) pada bulan Juli, sementara IHK inti melambat ke angka 2,5%.
Pasar kini memperkirakan hanya ada peluang sekitar 35% untuk kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan bulan September, turun dari 55% seminggu sebelumnya, menurut data CME FedWatch. Pergeseran ekspektasi suku bunga ini memberikan sedikit dukungan bagi mata uang Asia yang sensitif terhadap risiko, meskipun pergerakannya tetap terbatas karena investor terus memantau perkembangan di Timur Tengah.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan pada hari Kamis bahwa militer AS dapat mempertahankan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran untuk jangka waktu tak terbatas. Langkah ini merupakan bagian dari strategi Presiden Donald Trump untuk mempertahankan tekanan ekonomi terhadap Teheran di tengah macetnya negosiasi perdamaian. Eskalasi ini terjadi saat pelayaran melalui Selat Hormuz—jalur utama pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global—masih mengalami gangguan parah. Harga minyak mencatat kenaikan mingguan sebesar 4%, yang menambah kekhawatiran inflasi dan membatasi dorongan positif yang mungkin didapat mata uang Asia dari data AS yang lebih lemah tersebut.
Yen Menuju Penurunan Mingguan Sebesar 1%
Pasangan mata uang yen Jepang (USD/JPY) turun tipis 0,2% ke level 159,20 yen, namun berada di jalur kenaikan mingguan sebesar 1%. Mata uang ini telah melepaskan sebagian keuntungan yang diperoleh setelah intervensi gabungan AS-Jepang pada akhir Juli dan awal Agustus. Para pedagang semakin waspada terhadap kemungkinan intervensi lanjutan jika nilai tukar yen menembus level 160 per dolar.
Ekspektasi mengenai kenaikan suku bunga Bank of Japan pada bulan September juga meningkat tajam, namun para analis menyatakan bahwa sikap BOJ yang cukup *hawkish* diperlukan untuk memberikan dukungan berkelanjutan bagi yen. Di sisi lain, pasangan mata uang yuan Tiongkok (USD/CNY) diperdagangkan stabil, sementara pasangan dolar Australia (AUD/USD) naik tipis sebesar 0,2%.
