Minyak Naik karena Risiko Badai dan Houthi
Harga minyak naik pada 7 Oktober ketika trader menilai dua ancaman terhadap pasokan global, yaitu badai yang berkembang di Gulf of Mexico dan meningkatnya serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap Arab Saudi.
Brent naik 0,8% menjadi US$101,39 per barel, sedangkan WTI naik 0,7% menjadi US$90,05.
Badai Mengancam Produksi Minyak AS
Badai tersebut diperkirakan berkembang menjadi hurricane pertama musim Atlantik tahun ini.
Wilayah Gulf of Mexico yang berada dalam jalur badai menyumbang sekitar 15% produksi minyak mentah AS dan 5% produksi gas alam.
Hingga enam kilang juga berpotensi terdampak. Kilang di sepanjang Gulf Coast mencakup sekitar setengah kapasitas penyulingan minyak AS.
Dengan demikian, risikonya bukan hanya pada produksi crude, tetapi juga pada pasokan produk bahan bakar.
Ketegangan Timur Tengah Menambah Risiko
Serangan Houthi terhadap Arab Saudi menambah ketidakpastian geopolitik.
Meskipun ekspor minyak Saudi dan Timur Tengah mulai menunjukkan pemulihan, pasar tetap sangat sensitif terhadap gangguan baru.
Persediaan crude AS juga turun lebih dari dua juta barel pada minggu sebelumnya sehingga memperkuat kekhawatiran mengenai pasokan.
Mengapa Harga Minyak Penting?
Harga minyak di atas US$100 dapat meningkatkan tekanan inflasi.
Harga energi yang lebih mahal dapat membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam melakukan pelonggaran moneter.
Bagi dolar, kondisi ini dapat menjadi positif jika pasar memperkirakan suku bunga AS harus bertahan tinggi.
Bagi gold, dampaknya lebih kompleks karena inflasi mendukung emas, tetapi yield dan dolar yang lebih tinggi dapat mengimbangi dukungan tersebut.
Untuk saham, energi yang mahal dapat menekan margin perusahaan dan daya beli konsumen.



