Master Trader 168

Forex

Dolar Bertahan Dekat Level Tertinggi 18 Bulan saat Konflik Timur Tengah dan Data Inflasi Menjadi Perhatian

Dolar Tetap Kuat di Tengah Ketidakpastian Geopolitik

Dolar AS bertahan dekat level tertinggi dalam 18 bulan pada perdagangan awal Asia, 12 Oktober, ketika investor menilai meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan bersiap menghadapi rilis data inflasi Amerika Serikat. Kombinasi tersebut membuat trader valuta asing berhati-hati karena perkembangan geopolitik dapat memengaruhi permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman, sedangkan data inflasi dapat mengubah perkiraan suku bunga.

Reuters melaporkan indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang enam mata uang utama, sedikit turun ke 102,14. Walaupun melemah tipis, indeks tersebut masih berada dekat level tertinggi dalam 18 bulan yang dicapai pada pekan sebelumnya. Aktivitas perdagangan relatif terbatas karena pasar Jepang tutup untuk libur nasional, sehingga likuiditas di kawasan berkurang.

Ketegangan Timur Tengah Memengaruhi Sentimen Valuta Asing

Harga minyak bergerak naik-turun setelah kelompok Houthi yang didukung Iran meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi dan dua kapal tanker diserang selama akhir pekan. Perkembangan tersebut memicu kekhawatiran mengenai pasokan energi dan kemungkinan dampak ekonomi dari konflik regional yang lebih luas.

Kenaikan harga minyak dapat memengaruhi ekspektasi inflasi, terutama di negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi. Jika investor memperkirakan biaya energi akan tetap tinggi, mereka dapat menilai bahwa bank sentral perlu mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Ekspektasi tersebut selanjutnya dapat memengaruhi imbal hasil obligasi dan permintaan terhadap mata uang.

Reuters mengutip analis Commonwealth Bank of Australia yang memperkirakan serangan Houthi berkelanjutan dapat menopang harga minyak dan dolar AS. Mereka juga meragukan adanya terobosan diplomatik terkait Iran dalam pekan tersebut. Pandangan ini merupakan penilaian analis, bukan kepastian mengenai pergerakan pasar berikutnya.

US dollar dolar AS

Data Inflasi AS Menjadi Fokus Berikutnya

Pemicu utama selanjutnya adalah laporan Indeks Harga Konsumen atau CPI AS yang dijadwalkan dirilis pada Rabu. Data tersebut diperkirakan memberikan gambaran baru tentang inflasi sebelum pertemuan kebijakan Federal Reserve pada akhir Oktober. Investor mengamati apakah kenaikan biaya hidup dan energi akan membuat inflasi tetap tinggi.

Menurut laporan Reuters, Federal Reserve telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September. Pelaku pasar sedang menilai apakah data ekonomi terbaru akan mendukung kenaikan tambahan atau memperkuat alasan untuk mempertahankan suku bunga.

Sejumlah mata uang utama bergerak relatif terbatas. Dolar turun 0,14% terhadap yen menjadi 158,160 yen, sementara dolar Australia dan Selandia Baru relatif stabil. Euro juga menghadapi tekanan akibat kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Prancis.

Bagi trader forex, arah dolar dalam jangka pendek bergantung pada perkembangan geopolitik dan data ekonomi AS. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat, sedangkan data yang lebih lemah bisa mengurangi dukungan tersebut. Karena itu, posisi dolar yang dekat dengan level tertinggi tidak menjamin kenaikan akan berlanjut. Ekspektasi pasar dapat berubah ketika informasi baru tersedia.

Sumber :

Berita

terbaru kami