DXY Kehilangan Sebagian Kekuatan
Dolar AS melemah dalam perdagangan Asia pada Selasa, 13 Oktober 2026. Pergerakan ini terjadi setelah pasar AS mengalami libur pada hari sebelumnya. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS dan harga minyak bergerak turun.
Indeks dolar AS atau DXY turun 0,2% menjadi 102,39. Indeks tersebut mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang enam mata uang utama. Sebelum pelemahan ini, DXY mendekati level tertinggi sejak April tahun sebelumnya.
Menurut Reuters, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun turun lima basis poin menjadi 5,192%. Perdagangan obligasi kembali berlangsung setelah libur pasar AS pada Senin.
Harga Minyak dan Risiko Pasokan
Harga minyak Brent turun 1,4% menjadi US$105,20 per barel. Pelaku pasar mempertimbangkan kemungkinan bertambahnya pasokan diesel dari Rusia. Prospek tersebut muncul di tengah ketidakpastian terkait gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Rusia telah setuju memasok diesel ke pasar global. Namun, risiko pasokan energi masih menjadi perhatian. Serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina dan serangan terbaru di Arab Saudi menambah ketidakpastian.
Harga energi penting bagi pasar karena perubahan biaya minyak dapat memengaruhi ekspektasi inflasi. Jika minyak turun secara berkelanjutan, tekanan biaya energi mungkin berkurang. Sebaliknya, gangguan pasokan dapat mendorong harga kembali naik.
Reuters melaporkan bahwa penurunan harga energi dan perubahan imbal hasil Treasury mengurangi sebagian dukungan bagi dolar. Meski saham global melemah, laporan tersebut tidak menunjukkan lonjakan permintaan terhadap dolar sebagai aset aman pada saat itu.
Pergerakan Mata Uang Utama
Euro naik 0,2% menjadi US$1,1177. Pound sterling menguat 0,1% menjadi US$1,3219. Yen Jepang juga menguat sekitar 0,2% menjadi 158,215 per dolar AS.
Pergerakan yen terjadi setelah data Bank of Japan menunjukkan harga grosir Jepang naik 6,8% secara tahunan pada September. Angka itu lebih rendah daripada perkiraan median pasar sebesar 7,6%. Namun, pertumbuhan harga grosir tersebut masih relevan bagi ekspektasi suku bunga Jepang.
Dolar Australia berada di sekitar US$0,6960. Mata uang itu relatif tidak berubah setelah publikasi risalah pertemuan September Reserve Bank of Australia. Risalah tersebut menunjukkan bahwa dewan bank sentral sepakat menaikkan suku bunga untuk keempat kalinya pada tahun ini. RBA juga melihat risiko inflasi yang lebih persisten.
Perhatian Beralih ke CPI AS
Data inflasi konsumen AS berikutnya menjadi perhatian utama pasar. Reuters melaporkan bahwa investor menunggu laporan CPI yang dijadwalkan pada Rabu. Data tersebut dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve.
Kontrak berjangka suku bunga menunjukkan probabilitas 80,6% bahwa The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya. Angka itu turun dari 82,3% pada Jumat, menurut data CME FedWatch yang dikutip Reuters.
Analisis pasar: dampak terhadap DXY dan pasangan mata uang utama dikategorikan Medium. Penurunan yield dan minyak dapat mengurangi dukungan bagi dolar. Namun, data inflasi AS dan risiko geopolitik dapat mengubah sentimen pasar dengan cepat.
Kesimpulan
DXY turun ketika imbal hasil Treasury dan harga minyak melemah. Euro, pound, dan yen menguat terhadap dolar pada perdagangan Asia. Pasar selanjutnya memantau data CPI AS dan perkembangan risiko geopolitik.
Pergerakan tersebut tidak memastikan tren dolar berikutnya. Data ekonomi dan perubahan ekspektasi suku bunga tetap menjadi faktor penting.



