Shock Minyak Menjadi Risiko Makro Terbesar Jumat
Harga minyak menjadi salah satu penggerak utama pasar pada 8 Oktober ketika meningkatnya ketegangan Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Brent melonjak hampir 4% ke sekitar US$102,28 per barel, sedangkan WTI naik ke sekitar US$91,99. Dalam perkembangan perdagangan berikutnya, Brent bahkan sempat bergerak di atas US$104 karena kekhawatiran terhadap jalur pelayaran di Teluk dan Selat Hormuz semakin besar. Reuters
Selat Hormuz Menjadi Risiko Utama
Selat Hormuz sangat penting karena merupakan salah satu jalur pengiriman energi terbesar di dunia.
Reuters melaporkan bahwa serangan terhadap kapal tanker meningkat, sementara konflik yang melibatkan Iran dan negara-negara regional telah memasuki bulan kedelapan.
Masalah utamanya bukan hanya kenaikan harga minyak. Risiko yang lebih besar adalah munculnya shock inflasi baru.
Jika minyak bertahan di atas US$100 dalam waktu lama, inflasi dapat kembali meningkat ketika bank sentral masih menghadapi yield obligasi yang tinggi.
Badai AS Menambah Gangguan Pasokan
Hurricane Isaias juga mengganggu produksi minyak di Gulf of Mexico.
Lebih dari 25% produksi minyak dan sekitar 16% produksi gas alam di Gulf of Mexico AS dilaporkan ditutup akibat badai.
Artinya, pasar menghadapi dua masalah sekaligus: risiko geopolitik Timur Tengah dan gangguan produksi AS akibat cuaca.
Mengapa Penting untuk Jumat?
Pada Gold, risiko inflasi mendukung emas, tetapi yield dan dolar tinggi dapat mengimbangi efek tersebut.
Sementara itu, DXY dapat terdampak karena harga energi tinggi dapat memperkuat ekspektasi bahwa The Fed harus mempertahankan kebijakan ketat.
Bagi Nasdaq, S&P 500 dan Russell 2000, minyak mahal dapat meningkatkan biaya dan mengurangi ekspektasi pelonggaran moneter.
Sedangkan untuk AUD/USD, kenaikan minyak tidak otomatis bullish karena penguatan dolar dan yield global yang lebih tinggi tetap dapat menekan AUD.



