Beban Utang Negara Berkembang Meningkat
Sejumlah ahli pembangunan mengusulkan inisiatif pembiayaan internasional baru. Langkah ini membantu negara berkembang yang berutang tinggi untuk mendapat pendanaan baru. Pendanaan tersebut bertujuan mendukung pertumbuhan ekonomi dan investasi. Proposal bernama “Growth and Investment Reset” ini mengoordinasikan IMF, Bank Dunia, kreditur bilateral, dan swasta.
Proposal muncul saat negara berkembang menghadapi kenaikan biaya bunga. Tekanan terhadap keuangan pemerintah juga semakin besar. Para ahli menyebut situasi ini sangat sulit bagi mereka. Utang berbunga rendah saat COVID-19 mulai jatuh tempo. Padahal, biaya pinjaman global kini melonjak tajam.
Pembayaran bunga menekan investasi pemerintah
Pembayaran bunga kini mencapai rata-rata lebih dari 10% pendapatan pemerintah negara berkembang. Bahkan, biaya utang di 10 negara telah melampaui belanja investasi publik.
Cakupan Kerangka Kerja dan Peran Lembaga Keuangan
Kerangka ini awalnya mencakup sekitar 40 negara dengan tingkat utang berkelanjutan. Namun, beberapa negara tetap memerlukan restrukturisasi utang formal. Beban utang mereka tidak dapat diatasi hanya dengan pembiayaan kembali.
Proposal ini meminta IMF membentuk program pembiayaan jangka panjang berjumlah besar. Bank Dunia akan melengkapi dukungan tersebut melalui pinjaman dan jaminan.
G20 diperkirakan memainkan peran
Inisiatif ini dirancang melibatkan kreditur bilateral, termasuk China. Negara peserta dapat meminta mereka memperpanjang jatuh tempo utang.
Penyusun berharap proposal ini berjalan melalui G20. Inggris akan memimpin forum tersebut tahun depan. Inisiatif ini hadir menjelang pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok. Isu utang, biaya energi, penurunan bantuan, dan biaya pinjaman akan menjadi topik utama.
Tujuan Proposal
Proposal ini mencegah penggunaan pembiayaan multilateral murah sekadar untuk melunasi utang mahal. Selain itu, langkah ini mendorong investasi baru dan arus modal swasta.









