Dolar AS sedikit melemah pada Jumat, 9 Oktober 2026, tetapi masih berada di jalur untuk mencatat kenaikan selama empat minggu berturut-turut. Investor menilai prospek kebijakan Federal Reserve dan menantikan petunjuk lebih lanjut dari data sentimen konsumen serta ekspektasi inflasi Amerika Serikat.
Kinerja mingguan dolar mencerminkan ekspektasi yang masih bertahan bahwa The Fed dapat kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir 2026. Di sisi lain, penurunan terbatas pada yield Treasury dan meredanya harga minyak memberikan sedikit kelegaan bagi pasar mata uang.
Ekspektasi Kebijakan Fed Masih Menopang Dolar
Risalah rapat Federal Reserve bulan September menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan masih mengkhawatirkan inflasi dan mempertimbangkan kemungkinan pengetatan moneter lanjutan.
Meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober telah berkurang, pelaku pasar masih memperkirakan kemungkinan kenaikan pada Desember. Prospek tersebut membantu menopang dolar sepanjang pekan, meskipun mata uang AS ini sedikit melemah dalam perdagangan Jumat.
Arah yield Treasury AS tetap menjadi variabel penting. Yield yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar, sedangkan penurunan yield yang berkelanjutan berpotensi mengurangi keunggulan tersebut.
USD/JPY Naik Setelah Belanja Rumah Tangga Jepang Melemah
USD/JPY naik 0,2% setelah data pemerintah Jepang menunjukkan belanja rumah tangga turun 3,1% secara tahunan pada Agustus. Penurunan tersebut lebih kecil daripada kontraksi 3,5% yang diperkirakan ekonom, tetapi pertumbuhan belanja bulanan hanya mencapai 0,1%, di bawah proyeksi 0,5%.
Data tersebut kembali menimbulkan pertanyaan mengenai kekuatan konsumsi domestik Jepang dan ruang bagi Bank of Japan untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut.
Yen juga tetap sensitif terhadap ekspektasi kebijakan fiskal serta kemungkinan penerbitan utang pemerintah Jepang tambahan. Faktor-faktor tersebut, bersama prospek suku bunga Amerika Serikat, dapat terus memengaruhi USD/JPY.
EUR/USD dan GBP/USD Menghadapi Faktor Penggerak Berbeda
Euro sedikit pulih ketika harga minyak dan yield AS mereda. Namun, kekhawatiran mengenai utang publik Prancis serta hambatan politik dalam proses anggaran masih menjadi sumber tekanan bagi mata uang tersebut.
Reuters melaporkan bahwa euro sebelumnya diperdagangkan mendekati level terendah dalam 17 bulan sebelum pulih ke sekitar US$1,123 pada Jumat. Meskipun terjadi rebound, euro masih berada di jalur untuk mencatat penurunan mingguan kelima berturut-turut.
Poundsterling relatif stabil, sementara dolar Australia menguat terbatas selama perdagangan Asia pada Jumat. Pergerakan ini menunjukkan bahwa arah dolar secara luas memang penting, tetapi setiap pasangan mata uang juga dapat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi domestik dan risiko regional.
Hal yang Perlu Dipantau Selanjutnya
Sinyal penting berikutnya mencakup data sentimen konsumen AS, ekspektasi inflasi, komunikasi Federal Reserve, dan perubahan yield Treasury.
Untuk DXY, pertanyaan utamanya adalah apakah ekspektasi pengetatan Fed lanjutan masih mampu mengimbangi dampak penurunan yield. Sementara itu, bagi USD/JPY, kondisi konsumsi Jepang dan prospek kebijakan Bank of Japan tetap penting selain ekspektasi suku bunga AS.
Perubahan ekspektasi menuju lebih sedikit kenaikan suku bunga Fed dapat mengurangi dukungan bagi dolar. Sebaliknya, sinyal hawkish baru berpotensi memperpanjang kenaikan mingguan yang telah berlangsung.



