Saham Asia Naik Seiring Memudarnya Spekulasi Kenaikan Suku Bunga Fed
Pasar saham Asia mengawali pekan ini dengan penguatan. Para investor mulai mengikis ekspektasi akan kenaikan suku bunga Federal Reserve pada bulan Oktober. Hal ini terjadi setelah rilis data tenaga kerja AS yang lebih lemah dari perkiraan. Pergeseran ekspektasi ini menopang pergerakan saham. Meski demikian, kekhawatiran terkait utang pemerintah dan lonjakan biaya pinjaman masih membayangi pasar global.
Indeks saham Asia-Pasifik di luar Jepang milik MSCI menguat sekitar 1%. Sementara itu, indeks Nikkei Jepang melonjak 2,5%. Volume perdagangan di sebagian wilayah Asia relatif sepi. Hal ini disebabkan bursa di Tiongkok, Korea Selatan, dan New South Wales tutup karena libur nasional.
Data Tenaga Kerja AS yang Melunak Mengubah Ekspektasi Fed
Pertumbuhan lapangan kerja di AS melambat lebih dalam dari perkiraan pada bulan September. Selain itu, data payroll untuk dua bulan sebelumnya juga direvisi menurunkan angka pertumbuhannya. Melemahnya data pasar tenaga kerja ini mengurangi ekspektasi bahwa Fed akan menaikkan suku bunga lagi pada pertemuan Oktober.
Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober berada di bawah 20%. Namun, para investor masih melihat adanya peluang kenaikan pada bulan Desember. Perubahan ekspektasi ini turut memengaruhi pasar obligasi dan mata uang. Investor kini mengkaji ulang berapa lama biaya pinjaman di AS akan tetap berada di level tinggi.
Meskipun data pekerjaan memburuk, imbal hasil (yield) Obligasi Pemerintah AS tetap tinggi. Dolar AS juga bertahan relatif kuat. Hal ini terjadi karena imbal hasil obligasi yang tinggi terus menopang permintaan terhadap aset-aset AS.
Prancis Menjadi Perhatian Utama Pasar
Pasar Eropa menghadapi tekanan dari sumber yang berbeda seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap posisi fiskal Prancis. Mata uang euro merosot ke level terendah dalam 17 bulan. Di saat yang sama, melebarannya selisih (gap) imbal hasil obligasi pemerintah Prancis dan Jerman memicu kekhawatiran akan timbulnya tekanan yang lebih luas di pasar Eropa.
Pasar obligasi Prancis terus berada dalam tekanan. Hal ini terjadi saat investor mengevaluasi tingginya tingkat utang negara tersebut dan ketidakpastian politik jelang pemilihan presiden tahun depan. Kombinasi antara kekhawatiran fiskal, tingginya harga minyak, dan naiknya biaya pinjaman global membuat utang pemerintah menjadi fokus utama para investor.
Jepang juga terus menjadi sorotan setelah imbal hasil obligasi pemerintah tenor 30 tahun menyentuh rekor tertinggi. Para investor mencermati pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi. Pemerintah Jepang kini menghadapi tekanan untuk mengelola beban utang yang besar, sekaligus merespons dinamika kondisi pasar keuangan yang terus berubah.









