Dolar Menuju Penurunan Mingguan Pertama dalam Lebih dari Sebulan
Dolar AS berpotensi mencatat penurunan mingguan pertamanya dalam lebih dari sebulan terhadap euro dan yen Jepang pada Jumat. Investor mengalihkan perhatian ke prospek suku bunga AS. Kekhawatiran mengenai investasi AI dan utang operator pusat data mengguncang pasar keuangan.
Indeks Dolar AS turun 0,25% ke 101,77. Indeks tersebut berada di jalur untuk mencatat penurunan mingguan sekitar 0,45%. Pergerakan ini terjadi meskipun data inflasi konsumen dan produsen AS lebih tinggi dari perkiraan. Hal tersebut menunjukkan bahwa ekspektasi kebijakan Federal Reserve kini dipengaruhi oleh lebih dari sekadar data inflasi.
Kekhawatiran Investasi AI Menekan Dolar
Aksi jual saham terkait AI baru-baru ini memicu pertanyaan. Investor mempertanyakan apakah operator pusat data dapat menghasilkan laba yang cukup untuk membayar utangnya. Investor juga beralih ke obligasi pemerintah. Peralihan tersebut menekan imbal hasil Treasury.
Perubahan ini menantang pola dolar yang biasanya menguat sebagai aset aman. Alih-alih menguat ketika saham melemah, dolar justru tertekan. Pasar mempertimbangkan kemungkinan bahwa kekhawatiran terhadap investasi AI dapat memengaruhi pertumbuhan AS dan prospek suku bunga.
Euro dan Yen Menguat saat Pasar Menantikan Sinyal The Fed
Euro naik ke sekitar US$1,1235 dan berpotensi mencatat kenaikan mingguan. Sementara itu, yen juga membukukan penguatan mingguan moderat setelah empat pekan berturut-turut melemah. Komentar Bank of Japan mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga turut menjadi perhatian pasar yen. Kenaikan tersebut akan disesuaikan dengan kondisi ekonomi dan keuangan.
Investor mencermati pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh. Mereka mencari petunjuk mengenai keputusan kebijakan berikutnya. Arah dolar dapat bergantung pada faktor yang lebih dominan dalam membentuk ekspektasi suku bunga. Faktor tersebut mencakup inflasi yang persisten serta kekhawatiran terhadap pertumbuhan dan investasi.



