Harga Emas Pulih Setelah Aksi Jual akibat Inflasi
Harga emas pulih lebih dari 1% pada Kamis, 15 Oktober, karena pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil Treasury membantu logam mulia tersebut bangkit dari penurunan tajam pada sesi sebelumnya.
Reuters melaporkan bahwa harga emas spot naik 1,2% menjadi US$4.156,11 per ons, sedangkan emas berjangka AS menguat 1,7% menjadi US$4.177,80. Pemulihan ini terjadi setelah aksi jual yang dipicu oleh data inflasi konsumen AS di atas perkiraan, yang sebelumnya mendorong penguatan dolar dan meningkatkan ekspektasi pengetatan kebijakan Federal Reserve.
Penurunan Yield dan Pelemahan Dolar Menopang Emas
Emas tidak memberikan imbal hasil bunga, sehingga penurunan yield obligasi dapat mengurangi biaya peluang untuk memegang logam mulia tersebut. Dolar yang melemah juga dapat membuat emas lebih terjangkau bagi pembeli dengan mata uang lain, sehingga berpotensi mendukung permintaan.
Pemulihan terbaru terjadi ketika yield Treasury turun dan dolar melemah dari level tertinggi dalam 18 bulan. Namun, kondisi inflasi masih menjadi sumber ketidakpastian. Laporan CPI September yang lebih tinggi dari perkiraan membuat kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed kembali menjadi perhatian. Kondisi tersebut dapat membatasi kenaikan emas jika yield dan dolar kembali menguat.
Data Ekonomi AS Dapat Menentukan Pergerakan Berikutnya
Investor memantau data inflasi harga produsen dan penjualan ritel AS untuk memperoleh petunjuk tambahan mengenai tekanan harga dan aktivitas ekonomi. Data tersebut dapat memengaruhi ekspektasi terhadap keputusan kebijakan Federal Reserve berikutnya, sekaligus menentukan arah real yield dan dolar.
Dalam jangka pendek, prospek XAU/USD tetap sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga. Kenaikan terbaru menunjukkan pemulihan setelah aksi jual sebelumnya, tetapi belum cukup untuk memastikan bahwa tren naik yang berkelanjutan telah terbentuk.



